Teknologi Alat Pendingin Alami Yang Sudah Ada Sejak Zaman Kuno

Teknologi Alat Pendingin Alami Yang Sudah Ada Sejak Zaman Kuno

Teknologi kuno apapun itu, kini mulai ditinggalkan atau bahkan dilupakan. Padahal, selama tak merusak lingkungan dan alam maka teknologi itu pastinya ramah lingkungan. Itu malah bagus karena menjaga lingkungan hidup juga, gak banyak memakai alat-alat yang menyangkut arus listrik yang bahkan bisa berdampak negatif juga. Alat yang menggunakan bahan alami sangat banyak gunanya.

Termasuk cara pengawetan pangan dengan penciptaan alat yang dapat menurunkan suhu menjadi rendah secara alamiah, tanpa listrik dan tanpa freon.

Ada beberapa bukti bahwa konsep Evaporative Cooling digunakan pada zaman Kerajaan Lama Mesir, sekitar 2500 SM. Terdapat lukisan dinding yang menggambarkan budak mengipasi botol air, yang akan meningkatkan aliran udara di sekitar guci berpori dan membantu penguapan dan pendinginan.

Bahkan dari peradaban sekitar 3.000 SM, ditemukan banyak pot gerabah di Lembah Indus yang diduga digunakan untuk menyimpan dan mendinginkan air yang sama untuk sebuah sajian pada Hari Ghara atau Matki yang digunakan di India dan Pakistan.

Jika di Indonesia gerabah ini sering kita sebut sebagai ‘kendi’ yang pada masa kuno berguna untuk menyimpan air minum agar menjadi lebih dingin. Konsep kuno dan nyaris dilupakan ini, kini menjadi trand kembali. Sementara di Spanyol populer disebut botijos, yaitu wadah tanah liat berpori yang juga mirip kendi, yang digunakan untuk menjaga serta mendinginkan air dan telah digunakan selama berabad-abad.

Konsep kuno dan nyaris dilupakan ini, kini menjadi trend kembali. Beberapa konsep cara mendinginkan pangan dengan menurunkan suhu ruangan diantaranya adalah:

Alat Pendingin “Coolgardie safe”

Kulkas ini awalnya populer di Australia dengan nama Coolgardie safe. Kulkas alami tanpa listrik ini, berasal dari kota Coolgardie di Australia. Ada sumber yang menyebutkan bahwa teknologi ini sudah ada sejak lama dan lazim digunakan pada zaman ‘demam emas’ dan wild west, sebagai cara mendinginkan makanan dan minuman tanpa listrik pada masa lalu.

Cara membuat coolgardie safe sangat sederhana, yaitu hanya membutuhkan kawat atau kayu serta bambu dan karung goni serta ember atau alat tampung air lainnya.

Caranya, pertama dengan membuat rangka lemari dari kawat kemudian ditutupi karung goni yang terhubung ke ember yang berisi air sehingga dapat menyerap air. Jadi, ujung karung ini harus tercelup ke dalam air. Maka karung goni tersebut lama-kelamaan akan basah dan akan menyerap uap udara panas yang dikeluarkan sayuran dengan konsep Evaporative Cooling atau mendinginkan dengan cara penguapan air, sehingga sayuran mampu bertahan hingga 1 minggu.

Langkah terakhir adalah dengan menaruh coolgardie safe ditempat yang berangin. Kemudian angin akan membantu dalam proses penguapan yang menyebabkan isi dari kulkas tersebut mengalami penurunan suhu dan menjadi dingin.

Alat Pendingin “Metode Pot in Pot”

Ada lagi teknologi kuno untuk mengawetkan pangan dengan menggunakan pasir juga. Disebut dengan Pot in Pot atau “Pot di dalam pot” yaitu dengan menggunakan pasir yang dimasukkan diantara kedua pot yang ditumpukan. Hal ini pernah dikembangkan di beberapa negara pada masa lalu.

Alat ini sangat sederhana bahkan anda sendiri bisa membuatnya di rumah. Bahan yang dibutuhkan yaitu antara lain:

  • Dua buah pot
  • Satu berukuran besar
  • Satu berukuran kecil
  • Pasir
  • Kain
  • Air

Pertama masukan pot yang berukuran kecil kedalam pot yang berukuran besar, isi bagian antara pot yang kecil dan pot besar dengan pasir. Kemudian basahi dengan air. Tutup pot kecil dengan kain basah. Prinsip kerja dari Kulkas Pasir Pot in Pot ini adalah sama juga seperti pada masa lalu yang tak memiliki listrik, yaitu konsep Evaporative Cooling atau pendinginan melalui penguapan.

Cara kerja kulkas ini adalah dengan memanfaatkan proses penguapan untuk mengambil panas dalam pot kecil sehingga dapat menurunkan temperaturnya menjadi lebih rendah. Pembutan Kulkas Pasir ini sangat simpel. Dengan mengisi pot besar atau guci dengan pasir setinggi 3 cm ajah.

Kemudian masukan pot kecil tersebut ke dalam pot yang telah diberi pasir kemudian padatkan pasir di sela-sela pot besar dan kecil itu. Panas dari luar pot akan menyebabkan air dalam sela-sela pasir menguap dan mengalir ke luar melalui pori-pori pot besar dan bersirkulasi dengan udara kering disekelilingnya. Pot akan mengeluarkan panas dan menurunkan suhu mencapai 15 derajat Celcius di dalam pot kecil.

Metode atau konsep pendinginan ala Pot in Pot ini sebenarnya sudah ada sejak zaman kuno, namun pertama kali diperkenalkan kembali oleh Mohammad Bah Abba dari Nigeria pada tahun 1990-an. Bah Abba mengembangkan sistem pendingin ini yang terdiri dari pot gerabah kecil ditempatkan di dalam yang lebih besar, dan ruang antara dua diisi dengan pasir.

Lalu pasir diantara kedua pot disiram air hingga lembab. Kemudian gerabah yang berada dibagian paling dalam layaknya sebagai kulkas dan dapat diisi buah, sayuran atau minuman ringan. Setelah itu pada bagian atas ditutupi dengan kain basah, kemudian barulah paling atasnya, ditutup dengan penutup gerabah.

Letakkan kulkas pot dari gerabah ini pada tempat yang teduh atau di dalam rumah. Untuk hasil terbaik pastikan kulkas tersebut berada ditempat yang berangin. Tunggulah sehari. Pastikan juga bahwa pasir jangan sampai kering, agar pasir selalu lembab siram pasir dengan air secara berkala. Untuk mempertahankan kelembapannya.

Metode Evaporative Cooling ini efektif untuk daerah kering. Seperti di Nigeria Utara, pot gerabah telah digunakan sejak zaman kuno sebagai memasak dan penyimpanan air di kapal, di dalam peti mati atau lemari bahkan di dalam bank. Alat ini telah dipakai banyak orang secara luas di Afrika sebagai teknik pengawetan makanan yang murah dan sederhana.

Alat Pendingin ‘Evaporative Cooling’

Ada beberapa bukti yang mengatakan bahwa konsep Evaporative Cooling digunakan sejak zaman Kerajaan Lama Mesir, sekitar 2500 SM. Terdapat lukisan dinding yang menggambarkan budak mengipasi botol air, yang akan meningkatkan aliran udara di sekitar guci berpori dan membantu penguapan dan pendinginan.

Bahkan dari peradaban sekitar 3.000 SM, ditemukan banyak pot gerabah di Lembah Indusb tersebut yang diduga digunakan untuk menyimpan dan mendinginkan air yang sama, untuk sebuah sajian pada hari Ghara atau Matki yang digunakan di India dan Pakistan.

Jika di Indonesia sudah terkenal oleh anda pastinya, yaitu apa yang sering kita sebut sebagai ‘kendi‘ yang pada masa kuno berguna untuk menyimpan air minum agar menjadi lebih dingin. Sementara di Spanyol populer ini disebut dengan botijos, yaitu wadah tanah liat berpori yang juga mirip kendi, yang digunakan untuk menjaga serta mendinginkan air dan telah digunakan selama berabad-abad.

Alat Pendingin “Green Refrigerant Box“

Dari berbagai penemuan-penemuan cara penurunan suhu untuk pengawetan pangan pada masa lalu itu, yang kini disebut kulkas. Tapi jelas menggunakan listrik atau daya listrik. Tapi dua orang remaja puteri ini berhasil menemukan alat pendingin buah dan sayur tanpa menggunakan litrik atau baterai

Dan ternyata kulkas tanpa listrik yang dikembangkan oleh kedua remaja puteri itu mampu mendulang prestasi ke tingkat dunia. Teknologi pengawet pangan sederhana dan nyaris dilupakan ini, kembali dipopulerkan. Mereka dalah Muhtaza Aziziya Syafiq (Monza) dan Anjani Rahma, siswa kelas 11 dan 12 SMA Negeri 2 Sekayu, Sumatera Selatan.

Keduanya melakukan penelitian dan pengembangan kulkas tanpa listrik dan tanpa freon. Hasil kerja kerasnya membuahkan dua penghargaan pada ajang Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2014 di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 11-16 Mei 2014 lalu.

Ide untuk mengembangkan teknologi tersebut didasari dengan potensi sumber daya alam seperti buah-buahan dan sayur-sayuran yang melimpah saat mereka mengunjungi daerah pelosok di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, tempat kedua remaja itu bertempat tinggal. Namun, di daerah itu memiliki masalah yang berkaitan dengan keberadaan akses listrik yang sangat terbatas.

Akibatnya, sayur dan buah dirumah-rumah penduduk hanya dimasukkan kedalam karung lalu mulut karung diikat, kemudian digeletakkan begitu saja diatas lantai. Maka kedua remaja ini menemukan metode bagaimana cara mengatasi hal tersebut. Maka timbul ide dari siswa kelas 11 dan 12 itu untuk membuat kulkas portable tanpa listrik dan freon.

“Kami memanfaatkan kayu gelam karena daerah Musi Banyuasin memiliki sumber daya alam berupa kayu gelam yang biasa dimanfaatkan untuk material bangunan. Namun setelah digunakan yang biasanya sisanya dibuang dan menjadi limbah. Maka mulai dari itu kami mencoba untuk memanfaatkan kayu gelam untuk dijadikan arang aktif dalam penelitian kami” ungkap Muhtaza yang akrab disapa Moza.

Dari pengembangan teknologi ini, suhu yang awalnya 28 derajat celsius di kulkas tanpa listrik dan freon itu, ternyata mampu turun menjadi 5,5 derajat celsius dalam waktu 2 jam 20 menit. Biar pun begitu, mereka belum puas dengan karya ilmiah yang hanya bermodal kurang dari Rp.100 ribu saja, namun Moza dan Anjani ingin terus mengembangkan metode kulkas tanpa listrik dan freon ciptaannya agar bisa diproduksi.

“Kami ingin meliti terus agar bisa diproduksi dan bisa digunakan oleh masyarakat luas sehingga dapat membantu masyarakat luas terutama yang berada di daerah pelosok yang belum terfasilitasi jaringan listrik” jelas Anjani, salah satu dari kedua siswi yang berhasil bersaing dengan 1700 peserta dari 70 negara lainnya dalam Intel ISEF 2014 di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 11-16 Mei 2014 lalu.

Untuk membuat kulkas alami itu, mereka terlebih dahulu membuat kotak penyimpanan kemudian tutupnya dan juga evaporator dari kaleng. Kemudian mereka akan menggunakan bahan-bahan tambahan lainnya yang mudah didapat seperti arang dari Kayu Gelam yang kebetulan banyak didaerah mereka. Seperti kaleng bekas, botol plastik bekas, selang, etanol (alkohol) dan alat suntik untuk menyuntikkan etanol 70% ke evaporator yang berada di dalam kotak kulkas hasil ciptaannya.

Untuk memulai metode pendinginan ini, etanol disuntikkan ke sebuah lubang pada evaporator yang berada di dalam kotak yang terhubung dengan selang ke arah luar kotak. Lalu ujung selang yang berada diluar kotak dimasukan ke dalam botol plastik yang berguna sebagai alat pompa manual.

Kemudian, botol plastik itu ditekan-tekan sebagai pompa untuk menurunkan uap etanol pada evaporator yang berada di dalam kotak, sehingga dapat diserap oleh karbon aktif dari arang kayu Gelam yang berada dibawah kotak kulkas. Moza kini giat belajar dan sudah bersiap karena ia mencecar kuliah yang dijanjikan di empat Univesitas impiannya jika nilai sekolahnya bagus, diantaranya Stanford, Massachuset M.I.T., Edinburgh dan Cambridge. Tapi ketika ditanya mau yang mana, ia lebih menginginkan kuliah di Massachuset M.I.T.

Sedangkan Anjani suka melihat film X-Man dan Iron Man, yang mana robot kadang dianggap akan menghancurkan manusia, maka ia bercita-cita ingin membuat robot yang “memilik hati” di tahun 2050 nanti. Jika cita-cita mereka tercapai, mereka tak ingin bekerja diluar negeri karena mereka harus pulang dan ingin memajukan Indonesia.

Memang inspirasi dapat muncul dari mana saja. Untuk mendapatkan inspirasi, kita harus melihat suatu permasalahan terlebih dahulu dan tak boleh malas. Karena ketika anda malas untuk mencari “masalah”, maka anda tak akan mendapatkan ide apapun.

Itulah ide yang terinspirasi dari zaman dulu yang masih dianggap kuno oleh banyak orang, yang ternyata pada masa kini justru semakin banyak digunakan kembali menjadi trendy, karena back to nature akibat tak tergantungnya alat tersebut terhadap aliran listrik. Itu artinya, bahwa alat-alat pada masa lalu telah terbukti lebih canggih karena dapat berfungsi walau tanpa listrik.

Sebagaimana dilansir sebuah situs, event tersebut diikuti lebih dari 1.700 ilmuwan muda yang dipilih dari 435 kompetisi di lebih dari 70 negara di seluruh dunia.

Melalui karya ilmiah berjudul “Green Refrigerant Box“, kedua siswi SMA Negeri 1 Sekayu, Sumatera Selatan itu berhasi meraih penghargaan Development Focus Award dan hadiah senilai 10.000 dollar AS dari US Agency for International Development (USAID).

Mereka juga meraih penghargaan ketiga senilai 1.000 dollar AS di kategori Engineering: Materials & Bioengineering. Karya ilmiah kulkas tanpa listrik dan freon ini terfokus pada pemanfaatan Kayu Gelam atau Kayu Putih, sebagai solusi alternatif untuk pendingin buah dan sayur.

Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kalian semua. Dan mudah-mudahan motode alami ini semakin dikembangkan.