Dunia Darurat Air Bersih, 5 Inovasi Ini Bisa Jadi Penyelamat

Dunia Darurat Air Bersih, 5 Inovasi Ini Bisa Jadi Penyelamat

Krisis air bersih memang tengah melanda dunia. Dilansir dari National Geographic, saat ini satu dari sepuluh penduduk dunia tidak memiliki akses ke air bersih. Hanya kurang dari 1 persen jumlah air di bumi kita yang nyatanya bisa dikonsumsi makhluk hidup. Jumlah sumber daya alam yang secara kasat mata ini sangat terbatas semakin tertekan oleh adanya pertumbuhan jumlah penduduk dan beragam industri.

Sebanyak 99 persen lebih jumlah air di bumi ialah air asin atau beku yang tak bisa digunakan untuk minum ataupun mandi. Wargapun kewalahan untuk mencari air untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Bahkan ada juga yang membeli air bersih untuk mereka gunakan saat memasak dan mandi.

Saking mirisnya, beragam forum pemerhati sumber daya alam memperkirakan kalau pada tahun 2030, 50 persen manusia akan berada dalam kelangkaan air yang tak terkira. Krisis air sendiri telah menjadi isu global sejak tahun 2012 silam. Indonesia tentu saja tak luput dari ancaman krisis air. Banyak daerah yang sudah mengalami defisit air bersih.

Bahkan sebagian besar air tanah di Ibu Kota telah dikategorikan tak layak untuk minum. karena sumber air yang terdapat di tempat mereka tinggal sangat kumuh serta airnya pun tidak jernih dan air tersebut mengandung bau yang tak enak. Di mana-mana masyarakat makin tergantung dengan air kemasan yang pasti harganya akan naik dari tahun ke tahun.

Tanpa disadari, masalah ini sudah dalam keadaan pelik dan kita butuh solusi segera. Hipwee News & Feature sudah mengumpulkan beberapa solusi kreatif yang semoga dapat menjamin pasokan air minum kita di masa depan. Yuk simak!

Air kencing saja sekarang sudah bisa diubah jadi air minum lho. Para astronot di luar angkasa sudah bisa menikmatinya

Di NASA, ada satu orang yang memiliki pekerjaan unik. Bernama Jennifer Pruitt, yang bekerja di bagian pemprosesan air seni. Tugasnya ialah mengurus sistem pemanfaatan air pada Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk astronot yang tinggal di sana. Karena disana memang tidak ada sumber air untuk mereka konsumsi.

Air kencing sendiri berisi sekitar 95% air dan sisanya ialah bahan kimia buangan tubuh. Semakin banyak air yang dapat didaur ulang dari dua kakus angkasa luar ISS, maka akan semakin sedikit yang perlu dibawa dari bumi. Ini untuk menghemat air tersebut supaya tidak kekurangan air di kehidupan sehari-hari.

Saat para astronot menggunakan toilet, air seni tidak dibiarkan terbuang percuma begitu saja. Ada sejumlah bahan kimia yang digunakan agar pipis mereka tidak terurai dan menghindari tumbuhnya bakteri. Kemudian, air hasilnya digabungkan dengan uap dari udara di ISS yang sebagian besar ialah keringat astronot itu sendiri. Jadilah air minum. Astronot rata-rata meminum 730 liter urine dan keringat daur ulang dalam misi selama satu tahun. Mau coba?

Sebuah chip sederhana pun telah diciptaan untuk mengubah agar air laut bisa langsung diminum. Teknologi memang tengah berkembang tak terbantahkan

Para peneliti telah membuat sebuah alat kecil yang mampu menghilangkan kadar garam dalam air laut. Berawal dari sangat terbatasnya pasokan air di berbagai negara membuat mereka yang berasal dari University of Texas dan University of Marburg di Jerman berinisiatif menciptakan alat sederhana yang ternyata sangat bermanfaat.

Chip air adalah alat yang digunakan untuk mengatur sistem penyaringan dan daur ulang pemurni air. Karena persediaan air yang kurang sehingga di ciptakan alat chip baru. Dinamakan water chip, berbentuk mungil dan berdampak besar. Alat ini mampu menghasilkan electrical field mini yang akan mendesalinasi air laut.

Caranya yaitu dengan menggunakan medan listrik, sehingga pemisahan kadar garam dengan air akan terjadi. Kalau sebelumnya hanya mampu menghilangkan kadar garam 25% saja, sekarang diklaim hingga 99%.

Ada pula Tiny UV Water Purifier. Tak sampai hitungan jam, air bersih bisa dihasilkan hanya dalam kurun waktu 20 menit saja

Faktanya, orang yang kekurangan pasokan air bersih bukan hanya yang tinggal di daerah gersang dan apalagi terpencil. Seringkali krisis ini menjangkit mereka yang hidup di kota besar.

Air bersih untuk sekarang ini sangat minim. Ini membuat mereka kewalahan untuk mencari air bersih. Air PDAM pun juga sering bermasalah, salah satu faktornya yaitu karena banyak zat berbahaya yang mengontaminasi air itu.

Solusi untuk memurnikan kembali pasokan air minum sampai sekarang prosesnya masih lama dan memakan biaya besar. Dua hambatan itulah yang berupaya dikurangi atau bahkan kalau bisa dihilangkan di masa depan. Namun kalu ini di hilangkan bagaiman nasib masyarakat tersebut? Apakah mereka akan selamanya mengalami kesulitan karena keterbatasan air bersih?.

Para peneliti di Stanford University dan SLAC National Accelerator Laboratory berhasil mengembangkan sebuah UV water purifier berbentuk kotak hitam kecil. Meski gadget ini masih berupa prototipe, tetap saja alat ini akan sangat dibutuhkan manusia ke depannya. Proses penjernihan air yang biasanya hingga 48 jam, dengan ini bisa dipangkas hanya dengan 20 menit saja.

The Pipe, sebuah proyek desilinasi terapung di California yang dinilai sangat menjanjikan. Alat ini bisa memproduksi banyak air bersih lho

Menggunakan metode electromagnetic desalination, alat ini sanggup untuk mengubah air laut menjadi air bersih. Metode ini digunakan untuk menyaring garam dan mengembalikannya ke laut.

Jika pembangunannya ini berjalan dengan lancar, The Pipe dapat memproduksikan hingga 1,5 juta galon air bersih setiap harinya. Siapa yang gak heran dengan alat ini?

Karena metode ini, air ini bisa digunakan untuk didistribusikan ke daerah rawan air disekitar California. The Pipe menggunakan teknologi tenaga matahari untuk proses desilinasinya. Salain berguna untuk menjaga ketersediaan air minum bagi manusia, satu lagi kehebatan teknologi ini adalah teknologi tersebut tidak merusak lingkungan. Kalau dibandingkan dengan alat berat yang sarat manfaatnya, The Pipe ini malah sering disebut sebagai karya seni, karena disainnya yang unik dan futuristik.

Inilah Fog Harvester atau alat pemanen awan terbesar di dunia. Dibangun di daerah Maroko, alat ini terbukti sangat membantu

Fog harvester atau alat pemanen awan. Ya, teknologi macam ini memang sudah ada. Yang terbesar di dunia dibangun di daerah gurun Maroko, digunakan untuk memanen awan yang kemudian diolah menjadi air minum. Fog harvester sendiri menggunakan pagar jaring besar untuk menangkap kabut di gurun Maroko.

Memiliki permukaan seluas lebih dari 600 meter persegi, alat ini disebut telah memproduksi 17 galon air bersih siap minum per meter persegi dari luas jaring. Adanya pompa tenaga matahari, bersama dengan pipa telah berhasil mengalirkan air untuk 400 penduduk lokal yang berjuang keras mendapat air bersih di area gurun.

Di beberapa daerah Indonesia sendiri telah ada alat pemanen air hujan atau rain water harvesting sebagai alternatif sumber air. Sebuah universitas swasta negeri kita dalam beberapa tahun terakhir ini juga sudah mengembangkannya yang diaplikasikan di beberapa sekolah Jakarta.

Alat yang berguna untuk mengumpulkan air hujan dalam suatu tangki atau waduk alami ini akan beguna untuk banyak aktivitas warga. Seperti mencuci, menyiram tanaman, dan sebagainya. kalau krisis makin parah, maka harga air pun akan maki mahal. karena itu para ilmuwan dan peneliti di seluruh dunia sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengembangkan berbagai gadget, mau ukurannya yang besar atau yang kecil untuk mengahsilkan aie bersih.