Astronot Ke Mars Berpotensi Terkena Kanker

Astronot Ke Mars Berpotensi Terkena Kanker

Eksplorasi ke Planet Mars memang menarik dan tengah ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Namun semua mesti dipersiapkan dengan matang dan hati-hati karena berbagai penyakit berbahaya dapat membunuh manusia khususnya para astronot. Seorang peneliti dari University of California, Irvine (UCI) dalam jurnalnya mempresentasikan efek potensial dari paparan sinar kosmik dan radiasi. Fenomena ini disebut dengan “Space Brain” yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem kognitif manusia seperti demensia, paranoia, depresi dan rasa cemas.

Perjalanan ke Mars mungkin akan lebih berbahaya dari sebelumnya. Sebab, penelitian terbaru menyebutkan bahwa ada peningkatan resiko kanker yang dua kali lebih tinggi bagi astronot yang melakukan perjalanan ke planet merah tersebut. Resiko kanker yang tinggi ini disebabkan karena adanya radiasi kosmik. Mereka menemukan bahwa model resiko yang sebelumnya dijadikan pedoman belumlah lengkap. Model lawas itu selama ini dijadikan pedoman oleh NASA dan grup lainnya.

Model lama tersebut menyatakan bahwa sel stem kanker yang teradiasi hanya berdasarkan kerusakan sel langsung dan mutasi.

Meningkatkan Resiko Kanker untuk Sel

Sementara model baru, juga turut menghitung kemungkinan kerusakan berat pada sel akan meningkatkan resiko kanker untuk sel “bystander”. Ada efek turunan yang sulit dihindari. Sayangnya, dengan memakai baju astronot yang lebih tebal tidak akan menyelesaikan masalah ini. Tim peneliti percaya bahwa teknologi pelindung radiasi yang ada saat ini hanya akan sedikit mengurangi ancaman radiasi itu. Hal ini tentu tak memadai mengingat astronaut akan menghabiskan ratusan hari di planet itu. Ditambah lagi perjalanan selama setahun di luar angkasa untuk mencapai Mars.

Mereka membutuhkan perlindungan yang bisa menahan terpaan radiasi kosmik yang sangat tinggi dalam jangka waktu lama. Para peneliti berharap akan ada aksi yang segera untuk mengatasi hal ini. Komunitas medis memerlukan waktu lebih lama untuk meneliti resiko kanker ini sebelum mengirim astronot dalam perjalanan panjang itu. Tentu akan menjadi masalah kemanusiaan jika kita mengirim seseorang ke Mars tanpa pengetahuan yang memadai mengenai bahaya yang mengintai.

Serangan Radiasi dapat Meningkatkan Resiko Kanker

Serangan radiasi dari luar angkasa yang menghujani perjalanan pesawat ruang angkasa ke Mars berisiko tinggi menimbulkan kanker pada penumpang pesawat. Penjelajah terbaru NASA, Curiosity, mengukur tingkat radiasi pada saat dalam perjalanan ke Mars dengan membawa sebuah alat pembuat kopi yang pada awalnya ditujukan untuk mengukur radiasi pada permukaan planet. Para peneliti menemukan bahwa dengan mengaktifkan alat itu tepat setelah peluncuran Curiosity, bisa mengumpulkan data mengenai radiasi dari badai matahari dan sinar kosmik berenergi tinggi yang berasal dari luar galaksi, yang menghantam pesawat ruang angkasa.

Dosis radiasi diukur dalam satuan Sievert. Dosis kumulatif dari satu Sievert diduga dapat meningkatkan risiko kanker fatal sekitar lima persen. Perjalanan Curiosity selama 253 hari dengan jarak tempuh 350 juta mil mampu menyerap sekitar setengah Sievert dengan rata-rata 1,8 ribu Sievert per hari yang berasal dari lima badai matahari yang diukur oleh alat, tetapi lebih banyak berasal dari sinar kosmis.

Menurut National Cancer Institute, risiko kematian akibat kanker sebanyak 21 persen dan dua pertiga Sievert yang dibawa dari misi perjalanan ke Mars akan menambah risiko itu sebanyak tiga persen hingga menjadi 24 persen. Standar NASA saat ini memberikan batasan risiko kanker bagi astronotnya sebesar tiga persen. Peneliti berharap dapat mengembangkan sistem pelindung dan teknologi canggih untuk menghadang radiasi, mempersingkat perjalanan atau menjadi suatu pertimbangan bagi agen penerbangan ke antariksa untuk meninjau ulang misi ambisius perjalanan ke luar angkasa.

Radiasi Ruang Angkasa dapat Merusak Tubuh

Bagi astronot yang melakukan perjalanan ke Mars. Lingkungan ruang angkasa menimbulkan bahaya yang unik bagi astronot. Paparan partikel-partikel ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi sistem saraf pusat, yang dapat terjadi selama berada di luar angkasa dan bertahan setelah perjalanan ruang angkasa yang sebenarnya. Kesimpulan itu disampaikan ilmuwan setelah percobaan pada seekor tikus. Uji coba dilakukan oleh para ilmuwan terhadap tikus yang dipapari radiasi partikel bermuatan. Selama enam bulan percobaan, tikus tersebut mengalami kerusakan saraf yang mengakibatkan cacat otak jangka panjang.

Hal inilah yang memicu penyakit kardiovaskular pada manusia, hingga akhirnya menyebabkan kematian. The Guardian pernah menuliskan 3 dari 7 astronaut Apollo, dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke. Risiko ini utamanya disebabkan karena paparan sinar radiasi ruang angkasa yang berpotensi besar merusak sistem kardiovaskular tubuh. Menurut penelitian tersebut, astronot yang terbang lebih tinggi dari orbit bumi, berisiko 4-5 kali lebih tinggi ketimbang astronot yang terbang di orbit yang lebih rendah dari bumi.

Dengan kata lain, Profesor Michael Delp, peneliti dari Florida State University, menyatakan semakin tinggi Anda terbang dan meninggalkan orbit bumi, maka akan semakin besar pula peluang Anda untuk menderita masalah kardiovaskular. Selain penyakit-penyakit di atas, misi luar angkasa ke Mars juga bisa mengakibatkan kanker yang diakibatkan dari meningkatnya radiasi.

Diketahui, NASA berambisi mengirimkan astronot ke Mars pada akhir 2030-an. Mereka diperkirakan akan terbang selama delapan sampai sembilan bulan untuk sampai di planet tetangga Bumi itu. Guna menyiapkan misi tersebut, NASA ingin memahami bagaimana dampak perjalanan yang panjang tersebut terhadap fisik manusia. Sejauh ini, para ilmuwan telah mengetahui misi jangka panjang akan menimbulkan terhentinya pertumbuhan otot, kehilangan tulang, dan problem penglihatan pada astronot.

Ilmuwan harus melakukan penelitian lagi untuk menemukan cara agar bisa melindungi astronot dari sinar kosmik yang fatal agar rangka misi berawak ke Mars bisa berhasil. Selain itu, NASA juga akan siapkan tempat tinggal untuk para astronaut di Mars dan menemukan cara untuk bisa memproduksi makanan di Planet Merah itu.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kalian.