Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Siapa yang tidak ingin menjadi pusat perhatian? Minimal selalu mendapat perhatian dari orang-orang terkasih. Tapi kadang perhatian yang kita dapat tidak sesuai dengan ekspektasi. Jadilah kita kecewa dan melakukan apa saja demi mendapat perhatian lebih.

Sayangnya, tidak sedikit yang melakukannya dengan cara buruk, seperti pura-pura sakit atau malah sengaja menyakiti dirinya sendiri. Ternyata perilaku gemar berpura-pura sakit ini bisa dijelaskan secara medis. Perilaku suka berpura-pura sakit atau menyakiti diri sendiri ini disebut Sindrom Munchausen. Sindrom ini merupakan gangguan mental berbahaya yang bisa mendatangkan penyakit fisik. Jika penderita sindrom Munchausen dibiarkan atau malah dijauhi, ia bisa bertindak semakin parah sampai ke taraf melukai diri sendiri.

Sindrom Munchausen sudah lama menjadi perhatian para psikolog dan dokter kejiwaan. Apalagi di era milenial ini, gaya hidup masyarakat urban dipadukan dengan sosial media, cukup kuat menjadi penyebab orang-orang menjadi haus perhatian.

Sakit atau menderita masih dipercaya banyak orang sebagai kondisi yang butuh perhatian lebih. Makanya penderita sindrom Munchausen membuat dirinya dalam kondisi sakit agar orang-orang sekitar iba lalu bersimpati.

Apa itu Sindrom Munchausen?

Sindrom Munchausen atau sindrom pura-pura sakit adalah salah satu jenis gangguan jiwa. Penderitanya akan memalsukan berbagai gejala dan keluhan penyakit, baik fisik maupun psikis. Namun, kebanyakan penderita sindrom ini akan berpura-pura memiliki penyakit fisik tertentu. Mereka tak akan ragu untuk mengakses fasilitas kesehatan misalnya dengan pergi ke rumah sakit, periksa ke dokter, mencari obat di apotek, hingga menjalani berbagai tes untuk mengobati penyakit fiktif (palsu) yang diidap ini.

Gejala penyakit yang dikeluhkan biasanya berupa nyeri di dada, sakit kepala, sakit perut, demam dan gatal atau ruam pada kulit. Akan tetapi, pada kasus-kasus ekstrem penderita sindrom pura-pura sakit akan sengaja menyakiti diri sendiri untuk memicu gejala penyakit. Hal tersebut dilakukan entah dengan cara mogok makan, menjatuhkan diri supaya ada tulang yang retak, overdosis obat atau melukai bagian tubuh tertentu.

Mengapa Orang Berpura-pura Sakit?

Tujuan utama penderita sindrom Munchausen berpura-pura sakit adalah untuk mendapatkan perhatian, simpati, rasa iba dan perlakuan baik entah dari keluarga, kerabat, atau tenaga kesehatan. Mereka percaya bahwa berpura-pura sakit adalah satu-satunya cara supaya mereka bisa menerima kasih sayang dan kebaikan sebagaimana orang yang benar-benar sakit akan diperlakukan.

Berbeda dengan penderita hipokondria yang tidak menyadari bahwa gejala penyakit yang diderita sebenarnya bersifat fiktif, orang yang mengidap sindrom Munchausen tahu dan sadar sepenuhnya bahwa dirinya tak mengidap penyakit apa pun. Mereka akan dengan penuh pertimbangan menciptakan sendiri kondisi klinis tertentu guna menarik perhatian dari orang-orang di sekitarnya.

Sejauh ini belum ditemukan penyebab sindrom Munchausen, tapi para ahli sepakat bahwa mereka yang mengidap penyakit mental ini juga memiliki gangguan kepribadian yang ditunjukkan dengan kecenderungan menyakiti diri sendiri, kesulitan mengendalikan impuls, dan suka mencari perhatian (histrionik). Selain itu, berbagai penelitian menghubungkan sindrom pura-pura sakit dengan adanya riwayat trauma masa kecil karena kekerasan atau penelantaran dari orang tua.

Siapa yang Bisa Mengidap Sindrom Pura-pura Sakit?

Walaupun belum ada penelitian yang berhasil mencatat jumlah pasti maupun prevalensi penderita sindrom Munchausen, para ahli dan tenaga medis menyatakan bahwa kasus ini sangat jarang terjadi. Sindrom Munchausen biasanya muncul pada masa dewasa awal penderitanya. Namun, tak menutup kemungkinan bagi orang dalam rentang usia berapa pun untuk mengidap gangguan jiwa ini.

Dalam beberapa kasus, anak-anak pun bisa menunjukkan gejala sindrom pura-pura sakit. Sejauh ini, kebanyakan kasus yang dilaporkan oleh fasilitas-fasilitas kesehatan di seluruh dunia menunjukkan bahwa sindrom ini lebih banyak diderita oleh pria.

Bagaimana Cara Mengenali Tanda-tandanya?

Untuk menghindari berbagai risiko yang ditimbulkan gangguan jiwa ini, segera periksakan diri atau anggota keluarga yang menunjukkan berbagai gejala sindrom pura-pura sakit berikut ini.

  1. Riwayat penyakit yang tidak konsisten dan sering berubah-ubah
  2. Gejala penyakit justru semakin parah setelah dilakukan pemeriksaan, pengobatan, atau perawatan
  3. Memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai penyakit yang diderita, istilah-istilah medis, dan berbagai prosedur di fasilitas kesehatan
  4. Muncul gejala baru atau gejala yang berbeda setelah hasil tes kesehatan menyatakan bahwa tidak ada sumber penyakit yang terdeteksi
  5. Tidak takut atau ragu menjalani berbagai pemeriksaan, operasi, dan prosedur lainnya
  6. Sangat sering periksa ke dokter, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan yang berbeda-beda
  7. Menolak jika dokter yang menangani meminta untuk bertemu dengan keluarga atau menghubungi dokter sebelumnya
  8. Meminta bantuan atau perhatian dari orang lain ketika sakit
  9. Tidak mengonsumsi obat-obatan atau vitamin yang diresepkan
  10. Menolak jika dirujuk ke konselor, psikolog, terapis, atau psikiater
  11. Gejala penyakit hanya muncul pada saat-saat tertentu, misalnya saat bersama dengan orang lain atau saat dirinya sedang ada masalah pribadi
  12. Memiliki kebiasaan berbohong atau mengarang cerita
  13. Bisakah sindrom pura-pura sakit disembuhkan?

Seperti gangguan jiwa pada umumnya, penderita sindrom Munchausen tak bisa disembuhkan sepenuhnya. Namun, sindrom pura-pura sakit ini bisa dikendalikan setelah diagnosis ditegakkan dan penderita mau bekerja sama dengan keluarga, kerabat, atau tenaga kesehatan mental profesional untuk menanggulangi sindrom ini.

Kenali Gejalanya Sejak Dini

Gejala yang ditunjukkan seorang yang terjangkit sindrom Munchausen adalah sebagai berikut:

  • Suka mendramatisir suatu penyakit, membuat cerita karangan bahwa dirinya mengidap penyakit tertentu
  • Mengaku sakit tapi menunjukkan gejala yang aneh dan tidak konsisten. Jika normalnya orang meriang itu menggigil kedinginan dan badannya demam, ia hanya berlagak menggigil tapi suhu badannya relatif normal.
  • Tahu banyak tentang seluk beluk penyakit dan istilah medis untuk memperkuat kebohongannya.
  • Sering meminta obat pereda rasa sakit agar orang-orang percaya bahwa ia merasakan nyeri hebat di tubuhnya.
  • Sering berganti-ganti dokter dan rumah sakit, juga semangat untuk menjalani rawat inap atau pengobatan lain.
  • Keadaan fisiknya memburuk tanpa sebab yang jelas.
  • Melukai dirinya sendiri atau membuat penyakit dengan sengaja. Bisa dengan sengaja tidak makan berhari-hari, meminum racun, atau menyayat kulitnya.

Apa penyebabnya?

Sampai saat ini masih sulit mengidentifikasi gejala awal seseorang terkena sindrom Munchausen. Karena awalnya mereka mengaku sakit seperti orang sakit lainnya. Kondisi psikis mereka yang sengaja dibuat tertekan justru memperburuk kesehatan fisik, sehingga pemeriksaan medis memang menunjukkan adanya sedikit gangguan kesehatan.

Orang-orang yang terjangkit sindrom ini biasanya memiliki trauma masa lalu pernah dikucilkan, dicemooh karena suatu alasan, atau tertekan karena masalah berat. Sebagian kecil penderita Munchausen disebabkan juga karena sudah pernah menderita penyakit parah di masa lalu. Sehingga setelah dinyatakan sembuh muncul ketakutan akan terjangkit penyakit itu lagi.

Usahakan Selalu Berpikir Positif!

Jangan pernah meremehkan kekuatan pikiran. Apa yang kamu pikirkan, maka itu juga yang diterima tubuhmu sebagai sinyal. Itulah pentingnya untuk selalu berpikir positif. Jadikan dirimu bermanfaat dan berprestasi, maka orang-orang akan memperhatikan tanpa diminta. Tidak perlu berpura-pura sakit atau menyakiti diri untuk menarik simpati. Cintailah dirimu sendiri. Karena tubuhmu adalah satu-satunya harta yang menemanimu sampai ujung usia.

Jika Anda atau orang terdekat menderita sindrom pura-pura sakit, penanganan yang diberikan biasanya fokus pada perubahan perilaku dan mengurangi ketergantungan penderita pada berbagai prosedur dan perawatan medis. Penanganan yang utama biasanya berupa psikoterapi dengan metode terapi kognitif dan perilaku.

Biasanya keluarga dan kerabat penderita juga akan menjalani terapi keluarga untuk mendampingi penderita. Obat-obatan yang diresepkan umumnya berupa antidepresan dan penderitanya harus benar-benar diawasi selama mengonsumsi obat ini.