Inilah, Tradisi Kejam Terhadap Wanita Suku Pedalaman

Inilah, Tradisi Kejam Terhadap Wanita Suku Pedalaman

Dengan adat istiadat yang dipegang teguh, ada banyak tradisi kejam terhadap wanita yang tinggal di suku pedalaman di seluruh dunia. Setiap negara, setiap kebudayaan dan setiap suku memiliki tradisi masing-masing. Banyak di antaranya yang asing bagi orang-orang di luar kebudayaan itu sendiri, bahkan mungkin ada yang terdengar tak masuk akal. Ada pula yang menyakitkan dan terkesan kejam seperti dipaksa meminum racun hingga amnesia atau mengenakan sarung tangan berisi semut-semut mematikan.

Namun semua itu harus dijalani demi lestarinya tradisi yang dianggap luhur. Tak hanya kaum pria saja, para wanita pun tak lepas dari tradisi-tradisi menyakitkan seperti ini, terutama bagi mereka yang berasal dari suku-suku yang masih memegang teguh tradisi. Berikut tradisi Kejam Terhadap Wanita Suku Pedalaman di Dunia:

Dikubur dalam Pasir Panas

Untuk tradisi pertama yang kejam terhadap kaum wanita ada di California bagian selatan, yaitu dilakukan oleh suku pedalaman Luiseno. Dalam adat istiadat suku tersebut, para wanita diharuskan untuk menjalani prosesi menyambut kedewasaan wanita yaitu dikubur hidup-hidup dalam pasir. Hal tersebut wajib dilakukan saat seorang wanita mengalami haid untuk pertama kalinya.

Setelah itu keluarga dan para tetua suku mengatur sebuah prosesi untuk menyambut kedewasaan si gadis. Si gadis akan dikubur di pasir pada tengah hari. Dan karena California selatan merupakan daerah panas, tentunya pasir yang digunakan untuk mengubur tadi memiliki suhu yang panas pula. Tetapi si gadis harus menjalani ritual itu dengan bangga sebab dengan ritual penguburan diri ini kekuatan dan ketangguhannya sebagai wanita akan diakui oleh seluruh anggota suku.

Apabila seorang gadis telah mendapatkan haid, hal ini akan disambut bahagia oleh keluarga dan para tetua suku pun akan mempersiapkan ritual dikubur dalam pasir tersebut. Seperti yang kita tahu bahwa pasir pantai California cukuplah panas sehingga tidak bisa dibayangkan jika seseorang harus dikubur di tengah hari.

Meskipun tersiksa, para wanita suku tersebut harus bangga sebab ia akan menjadi wanita tangguh dan setelah mendapatkan wejangan, si gadis dianggap telah dewasa dan siap untuk menjalani proses pernikahan atau siap dilamar oleh pria menjadi seorang istri.

Berlari saat Haid

Tradisi berkesan kejam yang terakhir ini berasal dari suku Navajo, sebuah suku pribumi yang berasal dari Amerika bagian utara dan suku pribumi Indian Apache. Begitu mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya, perempuan dari suku Navajo dan Apache harus mengikuti sebuah lomba lari. Ya, benar, lomba lari.

Dan untuk itu mereka harus mengenakan pakaian tradisional dari kulit rusa yang berat. Selama empat hari berturut-turut gadis ini (dalam keadaan haid) harus harus bangun saat matahari terbit dan berlari menuju arah datangnya matahari terbit. Bagi para wanita yang mengalami haid pertama kali, mereka harus berlari dengan menggunakan pakaian tradisional terbuat dari kulit rusa. Sambil memakai baju yang berat, selama 4 hari berturut-turut, wanita tersebut harus berlari ke arah timur dimana matahari terbit.

Lebih buruk lagi, saat malam setelah berlari pada hari pertama dia harus duduk selonjor sepanjang malam. Keesokan harinya ia harus membuat kue dari tepung jagung yang sangat besar untuk disajikan kepada seluruh anggota suku. Entah apa filosofi yang tersimpan di balik ritual melelahkan tersebut.. Bukan hanya itu saja, esoknya dia diwajibkan untuk membuat kue besar terbuat dari tepung jagung. Kue tersebut dibuat untuk semua anggota suku yang menghadiri acara tradisi tersebut.

Leher Panjang Simbol Kecantikan Wanita

Makin panjang lehernya berarti makin cantik seorang wanita, ya udah pacarin saja jerapah πŸ™‚ Sahabat kejadiananeh.com, bagi suku kayan di pedalaman Myanmar ada persepsi unik yang berlaku sejak jaman nenek moyang mereka bahwa kecantikan seorang perempuan terlihat dari seberapa panjang leher mereka.

Jadi disana ada kebiasaan unik yang sering dilakukan, para kaum wanitanya saling berlomba-lomba untuk memanjangkan leher dengan menggunakan gelang. Biasanya perempuan yang memakai gelang leher ini sudah memulainya ketika usia mereka menginjak 2 hingga 5 tahun.

Proses penambahan gelang leher ini dilakukan secara bertahap dan sangat lambat, namun memiliki efek jangka panjang yang merusak tubuh ideal mereka. Gelang leher ini memang memperpanjang leher penggunanya dalam artian sebenarnya. Tulang selangka pemakainya akan ditekan ke bawah, dan pada waktu bersamaan membengkokkan tulang rusuk mereka.

Jadi bukan leher mereka yang bertambah panjang, melainkan tulang badan yang terdorong ke bawah. Sayangnya, sekali dipakai, mustahil gelang leher ini bisa dicabut. Kalaupun iya, level sakitnya pasti 77 kali lipat lebih pedih ketimbang ditinggal pacar kawin lari hahaha.

Kaki Lotus

Di masa abad ke 10 dan 11 di Tiongkok, mengikat kaki atau yang lebih dikenal dengan istilah Kaki Lotus adalah menjadi sebuah tren fashion unik sekaligus mengerikan bagi wanita yang hidup di zaman itu, karena memiliki kaki lotus dianggap melambangkan sifat lembut, sensual dan feminin dari seorang wanita.

Tujuan melakukan praktek kaki Lotus adalah untuk membatasi panjang telapak kaki wanita menjadi 3 inci. Bagaimana mungkin caranya? Hal ini hanya dapat dilakukan dengan mematahkan tulang di telapak kaki (meremuk paksa) dan menyusunnya kembali dengan sepatu berukuran pendek.

Sering kali memasukkan paksa kaki yang sudah patah kedalam sepatu dapat menyebabkan infeksi dan gangguan kesehatan seumur hidup, hingga kematian. Dan membutuhkan lebih dari 6 bulan para wanita di jaman itu agar bisa sembuh dan kembali berjalan usai melakukan tradisi unik dan mengerikan tersebut.

Berendam saat Menstruasi

Selain suku Navajo di Amerika Utara, suku Nootka yang ada di Kepulauan Vancouver juga memiliki ritual tak kalah kejam dalam memperlakukan kaum wanita disana. Untuk para wanita yang baru menstruasi atau dalam bahasa mereka disebut dengan menarche, mereka harus menjalani sebuah tradisi yang tidak lazim karena tetua suku akan membawa mereka ke laut lalu meninggalkan mereka sendirian disana.

Di laut tersebut, wanita yang sedang haid harus berendam buka-bukaan total selama beberapa hari. Hal ini dilakukan untuk menguji kekuatan wanita tersebut. Mungkin tujuan ritual ini ialah untuk membuat wanita tersebut bisa menahan rasa sakit saat melahirkan nanti.

Akan tetapi, apa pun alasannya, di akhir ritual banyak wanita yang melakukan hal tersebut tidak kuat untuk berdiri karena kelelahan dan saat itulah anggota suku akan bersorak gembira, karena menganggap wanita tersebut telah berhasil melewati ritual kedewasaan.

Khitan Perempuan

Khitan untuk wanita sebenarnya adalah praktik yang cukup umum ditemui dalam berbagai budaya, termasuk Indonesia. Tetapi proses khitan untuk menandai kedewasaan perempuan yang dijalankan oleh suku Sabiny di Uganda ini cukup mengerikan dan tak biasa. Dalam khitan ala suku Sabiny, bagian klitoris wanita akan dipotong sebagian. Kadang-kadang klitoris dipotong seluruhnya. Alasannya, dengan tak adanya klitoris hasrat seksual wanita akan berkurang. Jadi dia akan selalu setia kepada suaminya kelak dan tidak memiliki perilaku β€˜liar’ di ranjang (yang dianggap memalukan).

Saat khitan berlangsung, perempuan yang menjalaninya harus menahan rasa sakit luar biasa ketika klitoris disayat. Jika berhasil melaluinya, dipercaya si perempuan nantinya sanggup menanggung rasa sakit saat melahirkan anak-anaknya kelak dan melalui berbagai cobaan dalam hidup. Praktek khitan tradisional ini dianggap berbahaya oleh kalangan medis karena tidak dilakukan secara higienis dan tak ada perawatan khusus untuk mengurangi risiko infeksi pada organ pasien.

Sebenarnya tak hanya suku Sabiny Uganda saja yang menjalankan tradisi khitan tanpa pengawasan medis yang berbahaya ini. Khitan bagi perempuan secara tradisional merupakan praktik yang saat ini masih menghantui para wanita di Timur Tengah, Afrika, dan sebagian kebudayaan di Asia. Bukan hanya di suku Sabiny saja, ritual khitan perempuan ini pun terjadi di suku Afrika dan Asia lainnya termasuk juga di Indonesia, tapi bedanya di negeri kita sendiri dilakukan oleh Dokter dan sudah menggunakan obat bius beserta obat-obatan sehingga terjamin kesehatannya

Penyayatan Perut

Ada juga ritual kejam lain yang tak kalah sadis dan harus dijalani oleh wanita di etnis Tiv, Nigeria. Para wanita etnis ini yang baru saja mendapatkan haid diwajibkan untuk lakukan sebuah ritual yang menyakitkan. Perut mereka harus disayat sebagai tanda bahwa mereka telah menjadi wanita dewasa.

Penyayatan yang dilakukan pun tidak menggunakan obat bius sehingga para wanita harus menahan rasa sakit yang luar biasa. Sayatan yang dilakukan pun tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Perut gadis yang baru mendapat haid tersebut disayat dengan beberapa torehan luka berbentuk garis memanjang. Rasanya sudah pasti menyakitkan karena proses berlangsungnya ritual tidak disertai dengan obat bius atau tindakan medis untuk pencegahan infeksi. Ritual ini sifatnya wajib bagi para perempuan di sana.

Selain menandakan kedewasaan, sayatan-sayatan ini dipercaya dapat meningkatkan kesuburan si gadis. Seorang gadis baru bisa disebut wanita sejati jika sudah memiliki empat bekas sayatan di perutnya. Dengan begitu mereka pun bisa mendapatkan jodoh yang baik. Setidaknya, minimal para wanita harus memiliki empat sayatan sehingga dia dinyatakan akan mendapatkan jodoh yang baik. Dan tak kalah anehnya, menurut kepercayaan etnis Tiv, ritual ini bisa membuat kesuburan si wanita akan makin baik jika ia menikah nanti. Apa hubungannya coba, ini mah gila.

Setrika Dada

Tradisi sadis terhadap wanita juga terjadi di negara Kamerun. Negara bagian Afrika Barat ini melakukan sebuah tradisi setrika dada untuk para wanita yang sedang alami pubertas. Setrika dada yang dilakukan ini sangatlah menyakitkan karena ibu dari si gadis akan menyetrika dada ayam anak gadisnya sendiri yang rata-rata masih berusia 9 sampai 10 tahun dengan menggunakan kayu, logam, batu atau palu yang telah dipanaskan.

Tanpa didampingi dengan tindakan medis yang memadai, ritual ini tentu saja akan sangat menyakitkan. Banyak para ibu yang hidup di pedalaman Kamerun percaya jika hal ini harus dilakukan agar anak gadis yang sedang pubertas tidak akan mendapatkan pelecehan hooh hooh sebab dada mereka rata dan membuat kaum pria tertarik untuk menggoda mereka. Meskipun tidak diakui secara terbuka, menurut Washington Post banyak gadis kecil yang baru mengalami pubertas di Kamerun, salah satu negara di Afrika Barat yang menjadi sasaran praktik setrika payudara.

Gadis-gadis di Kamerun, terutama yang hidup dalam lingkungan dengan budaya tradisional harus menjalani proses di mana dada mereka disetrika agar jadi benar-benar rata. Orang-orang Kamerun berpendapat kalau dada yang menonjol bisa menimbulkan birahi. Jadi dengan dada yang rata para wanita akan terhindar dari pelecehan dan tampak lebih terhormat. Para ibu nekad menyetrika dada putri mereka sendiri karena mereka tak ingin putri mereka menarik perhatian kaum pria pada usia dini dan mengalami kehamilan di luar nikah.

Menurut data statistik dunia UNFPA, ada 24 persen wanita Kamerun yang mendapatkan perlakuan ini dan tak jarang dari mereka mengalami berbagai masalah kesehatan seperti infeksi, kista, peradangan luka dan masalah penyakit lainnya. Karena berbahaya dan dianggap melanggar hak asasi wanita, banyak pihak yang menginginkan ritual ini dihapus.

Dibakar dan Digigit Semut Beracun

Di daerah Suriname khususnya di suku Carib, ada ritual untuk para wanitanya yang sangat menyakitkan. Wanita yang sedang mengalami pubertas harus menjalani ritual yang sangat menyakitkan, bahkan dua ritual sekaligus. Yang pertama mereka harus memegang kapas yang telah dibakar hingga tangan mereka melepuh.

Mula-mula si gadis dipaksa untuk memegang gumpalan kapas yang terbakar, sehingga tangan mereka melepuh karena terbakar. Dan mereka harus menahan rasa sakit itu sampai waktu yang ditentukan, karena ritual ini merupakan bagian dari ujian sebagai seorang wanita dewasa. Setelah menjalani ritual pertama, masih ada ritual lanjutan yang harus dijalani lagi. Si gadis diperintahkan untuk mengenakan kain penutup tubuh dari sejenis tikar yang bagian dalamnya dipenuhi dengan semut beracun.

Gigitan semut beracun yang sangat menyakitkan ini akan menjadi sarana uji kekuatan dan keberanian bagi si gadis. Bukan hanya itu saja, setelah ritual tersebut, para wanita juga harus memakai kain penutup yang dipenuhi dengan semut beracun. Tentu saja, hal tersebut akan sangat menyakitkan. Gak percaya? Coba aja sendiri πŸ™‚

Diasingkan selama 3 bulan

Di suku pedalaman Ngoni, Malawi, ada sebuah ritual yang harus dilakukan untuk para gadis danterbilang tidak kalah sadis dengan ritual diatas. Dalam ajaran yang diwariskan oleh leluhur suku mereka, wanita yang mengalami pubertas harus melakukan ritual tersebut agar dianggap telah menjadi seorang wanita dewasa. Ketika seorang gadis hendak memasuki kedewasaan secara resmi, dia harus diasingkan

terlebih dahulu. Si gadis akan ditempatkan di sebuah area terpencil seorang diri selama tiga bulan penuh.Wajah dan tubuhnya dipulas dengan sejenis tepung putih yang menandakan pemisahan fisik dan rohani dari masyarakat di mana dia tinggal. Seolah diasingkan seorang diri selama tiga bulan masih belum cukup buruk, ia masih harus menjalani satu ritual penentuan lagi. Si gadis diminta duduk telanjang di dalam air sungai atau danau selama beberapa waktu sampai salah satu wanita yang dituakan di sukunya memperbolehkan dia bisa keluar dari pengasingan dan memulai hidupnya sebagai wanita sejati.

Hal ini dilakukan sebagai tanda bahwa gadis itu akan terpisah dari masyarakat suku. Kemudian, mereka juga harus duduk buka-bukaan polos tanpa pakaian sama sekali di sungai dalam waktu yang tidak ditentukan. Hanya tetua wanita suku tersebut saja yang akan tentukan. Jika si gadis dianggap telah dinyatakan dewasa sepenuhnya oleh tetua wanita suku Ngoni tersebut, maka dia baru boleh keluar dari sungai dan melakukan aktivitas seperti biasa.