Gowok, Tradisi Mengasuh Pria Agar Makin Jantan dan Mampu Memuaskan Wanita Lahir Batin

Gowok, Tradisi Mengasuh Pria Agar Makin Jantan dan Mampu Memuaskan Wanita Lahir Batin

Tradisi yang satu ini mungkin dianggap cukup tabu dan tak banyak orang yang mau terbuka membahasnya. Namanya tradisi gowok. Tradisi yang konon berasal dari Tiongkok dan tiba di Jawa ini bisa dibilang tradisi untuk mengajari remaja laki-laki bisa menjadi seorang pria dewasa. Dewasa yang dimaksud di sini dalam arti bisa memahami seluk-beluk tubuh perempuan. Ada sejumlah cerita menarik terkait tradisi yang satu ini.

Ternyata, ada adat yang rada unik di desa Bagelen ini. Tanpa ragu, menurut cerita yang ada, di desa ini ada seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun, tak pernah kawin, hidup tanpa famili dan sangat dihormati tokoh-tokoh desa. Tugas wanita itu adalah mengajarkan seks bagi anak-anak muda. Saat pemuda ini berumur 15 tahun, ia dibawa ke rumah perempuan itu. Ia disuruh tidur di sana selama satu malam dengan si perempuan. Goo Hwang Lin ini adalah keturunan dari Goo Wok Niang yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho ke Jawa.

Goo Wok Niang digambarkannya sebagai pembawa tradisi gowok asal Tiongkok ke Jawa. Bahkan ada novel yang dibuat dengan latar tradisi gowok yang begitu fenomenal. Untuk kisah selengkapnya, yuk ikuti sejumlah info menariknya di sini!

Tradisi Ini Konon Dibawa oleh Wanita bernama Goo Wook Niang

Goo Wook Niang, adalah sosok wanita Tiongkok yang telah membawa tradisi yang disebut Gowok ke Jawa. Mungkin kamu sudah bisa menduga dari mana nama gowok berasal. Yaps, gowok diambil dari nama Goo Wook Niang sendiri. Karena lidah orang Jawa saat itu agak sulit melafalkan nama lengkap Goo Wook, maka dipersingkat jadi gowok saja. Nah, seperti yang sudah disebutkan di awal tadi, tugas dari seorang Gowok ini adalah memperkenalkan seluk-beluk tubuh perempuan, katuragan wanita, pada remaja laki-laki yang beranjak dewasa.

Ada tradisi Jawa tempo dulu, di mana remaja yang sudah dikhitan akan tinggal serumah dengan seorang Gowok. Gowok ini kemudian yang akan mengajarinya berbagai hal yang terkait dengan cara membahagiakan perempuan secara lahir dan batin. Gowok ini kemudian yang akan mengajarinya berbagai hal yang terkait dengan cara membahagiakan perempuan secara lahir dan batin. Dengan kata lain, si remaja akan diajari semua hal yang terkait dengan urusan ranjang. Apa tujuannya? Tujuannya agar si remaja kelak bisa membahagiakan istrinya.

Itulah alasannya dibuat aturan macam gitu. Tapi mungkin ini kedengarannya sangat tidak pantas untuk dilakukan. Tapi pada masa itu semuanya harus turut dengan tradisi tersebut. Itu memang tradisi yang wajib di laksanakan.

Nyantrik Bisa Berlangsung Selama Beberapa Hari

Remaja laki-laki bisa menghabiskan waktu selama beberapa lama dalam “asuhan gowok”. Masa ini disebut nyantrik. Masa ini bisa berlangsung selama beberapa hari, bisa juga seminggu. Sang remaja akan diajari bagaimana menjadi lelananging jagad yang sejati. Bukan hanya soal urusan ranjang saja yang diajarkan oleh seorang gowok. Gowok pun akan mengajari berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga dan bagaimana cara memperlakukan istri dengan baik di masa yang akan datang.

Gowok adalah seorang perempuan yang disewa oleh seorang ayah bagi anak lelakinya yang sudah menginjak dewasa dan menjelang kawin. Seorang gowok akan memberi pelajaran kepada anak laki-laki itu banyak hal perikehidupan berumah-tangga. Dari keperluan dapur sampai bagaimana memperlakukan seorang istri secara baik. Gowok sendiri biasanya disewa oleh ayah dari anak remajanya yang beranjak dewasa. Agar sang putra bisa menjadi suami yang seutuhnya saat dewasa nanti, maka perlu dibekali berbagai pengetahuan dan pelajaran langsung dari seorang gowok. Setidaknya nanti saat malam pengantin baru, sang pemuda tidak merasa malu.

Diangkat Dalam Novel Berjudul Nyai Gowok, Novel Kamasutra dari Jawa

Novel karya Budi Sardjono yang satu ini memang cukup mengundang rasa penasaran. Dari judulnya saja, sudah kebayang dong novel ini membahas soal apa? Menyangkut soal tradisi gowok dan tradisi seksualitas Jawa. Berlatar kota Temanggung tahun 1955, Nyai Lindri yang berperan sebagai gowok mendidik Bagus Sasongko menjadi lelaki sejati. Begitu lamaran dari calon pengantin pria diterima dan hari pernikahan ditentukan, kedua keluarga harus bersepakat memilih gowok untuk calon pengantin pria tersebut.

Setelah persetujuan tercapai, keluarga calon pengantin pria menghubungi gowok yang bersangkutan. Selanjutnya calon pengantin pria diserahkan kepada gowok untuk mendapatkan pelajaran teori maupun praktik perihal seluk-beluk hubungan suami-istri. Diharapkan apa yang diperoleh dan dipraktikkan gowok tersebut dapat dikuasai dengan baik (mahir) supaya nantinya dapat mengajari istrinya. Nyai Lindri mengajarkan berbagai hal yang berhubungan dengan cara membahagiakan seorang perempuan dan bagaimana cara memperlakukan tubuh istrinya nanti ketika sudah menikah.

Terdengar vulgar? Tak bisa dipungkiri ada hal-hal yang “dewasa” dibahas dalam novel tersebut. Novel ini pun sepertinya lebih layak dibaca oleh mereka yang sudah menikah atau berumah tangga. Gowok berperan sebagai pemberi pelajaran dan praktik hubungan seks kepada calon pengantin pria. Mereka biasanya adalah wanita dewasa yang berusia 23-30 tahun.

Sebelum perkawinan yang dianggap sakral, wajib hukumnya seorang laki-laki untuk belajar bagaimana menafkahi batin istri. Bekerja banting tulang untuk kebutuhan materi belum dianggap cukup sebagai persiapan berumah-tangga.

Masih menjadi pertanyaan tentang entah apakah saat ini tradisi Gowok masih ada atau sudah tak dilestarikan lagi. Seumpama ada pasti akan jadi kontroversi tersendiri. Tapi, ada beberapa sumber yang mengatakan kalau Gowok tetap diimplementasikan lho di beberapa daerah terpencil. mungkin bentuknya lebih sopan dan punya norma.
Kalau sobat penasaran cari ajah yahh… 😀 😀 😀