Aneh, Tradisi Suku Polahi Ini Anak Bisa Nikahi Ibu, Ayah Bisa Nikahi Anak

Aneh, Tradisi Suku Polahi Ini Anak Bisa Nikahi Ibu, Ayah Bisa Nikahi Anak

Pada umumnya pernikahan tidak boleh dilakukan oleh saudara kandungnya sendiri. Karena ini termasuk pantangan dan tidak dapat dilaksanakan. Bagi masyarakat umumnya, kawin dengan saudara kandung merupakan pantangan bahkan tidak bisa ditolerensi. Namun ada satu suku yang tidak melarang melakukan pernikahan dengan saudara kandungnya yaitu suku Polahi di pedalaman Gorontalo.

Mereka dapat menikah dengan saudara kandung mereka sendiri. Tidak ada larangan bagi suku tersebut, bahkan mereka bebas melakukan pernikahan dengan saudaranya. Justru suku ini hanya kawin dengan sesama saudara kadung mereka. Lain halnya seperti yang kita lihat di kehidupan kita atau di sekitar kita.

Suku pedalaman ini melakukan hal seperti itu karena mereka tidak ada pilihan lain. Disini hanya kami, makanya kami kawin dengan saudara kami sendiri,” ujar Mama Tanio, salah satu perempuan Suku Polahi yang ditemui di Hutan Humohulo, Pegunungan Boliyohuto, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo.

Suku Polahi merupakan suku yang masih hidup di pedalaman hutan Gorontalo dengan beberapa kebiasaan yang primitif. Mereka tidak mengenal agama dan pendidikan, serta cenderung tidak mau hidup bersosialisasi dengan warga lainnya.

Perkawinan Sedarah

Walau beberapa keluarga Polahi sudah mulai membangun tempat tinggal tetap, tetapi kebiasaan nomaden mereka masih ada. Polahi akan berpindah tempat, jika salah satu dari keluarga mereka meninggal. Namun mereka akan tetap melaksanakan perkawinan satu darah. Karena ini sudah termasuk tradisi suku Polahi tersebut.

Pernikahan satu darah ini akan tetap dilaksanakan oleh suku tersebut. Ini menjadi tradisi yang akan mereka kembangkan. Menurut mereka hal ini menjadi salah satu tradisi yang harus di laksanakan oleh suku Polahi atau suku pedalaman yang terdapat di hutan Humohulo.

Nah, salah satu kebiasaan yang hingga sekarang masih terus dipertahankan oleh suku Polahi adalah kawin dengan keluarga sendiri yang masih satu darah. Hal ini sudah biasa bagi mereka, ketika seorang ayah mengawini anak perempuan kandungnya sendiri, begitu juga seorang anak laki-laki kawin dengan ibunya. Gimana bisa yah, seorang ayah mengawini anak perempuannya sendiri dan anak laki-lakinya kawin denga ibunya?. Namun hal ini sudah menjadi tradiri mereka sendiri.

Beda hal dengan kita. Dikehidupan atau tradisi suku kita sangatlah berbeda dengan suku pedalaman tersebut. Bahkan bertolak belakang dengan tradisi yang kita miliki. Kalau di kehidupan kita perkawinan satu darah sangat di larang atau biasa di bilang itu adalah pantangan dan akan berakibat buruk jika ada yang melakukan atau melanggarnya. Bisa juga akan di usir dari kampung tersebut.

Hal biasa bagi mereka ketika seorang ayah mengawini anak perempuannya sendiri. Kondisi ini diakui oleh satu keluarga Polahi yang ditemui di hutan Humohulo. Kepala sukunya, Baba Manio, meninggal dunia sebulan lalu.

Memperistri Adik Sendiri

Adik kandungnya sendiri yang menjadi istrinya. Ini kedengaran sangat aneh atau tidak lazim. Namun itu sudah menjadi tradisi yang harus mereka ikuti. Saudaranya sendiri di peristri, apa yang akan terjadi?. Memang kalau ini terjadi di lingkungan sekitar kita, mereka akan di katakan sebagai manusia yang terkutuk bahkan bisa jadi tidak dianggap lagi di kampungnya tersebut. Dan mereka akan cepat-cepat di usir dari kampungnya.

Tapi lain halnya dengan suku orang pedalam ini. Seperti Baba Manio beristri dua, Mama Tanio dan Hasimah. Dari perkawinan dengan Mama Tanio, lahir Babuta dan Laiya. Babuta yang kini mewarisi kepemimpinan Baba Manio memperistri adiknya sendiri, hasil perkawinan Baba Manio dengan Hasimah. Tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka karena itu sudah seharusnya mereka jalani di suku tersebut.

Mereka pun akan tetap tinggal di kampung mereka sendiri. Karena hal tersebut merupakan sesuatu yang akan mengembangkan suku mereka. Tidak ada kata larangan mereka melakukan perkawinan antara adek dan kakak kandungnya tersebut. Sama halnya dengan saudara kandung yang melakukan perkawinan satu darah ini yaitu Hasimah sendiri merupakan saudara dari Baba Manio.

Jika kelak anak-anak Babuta dan Laiya ini sudah besar mereka juga akan di kawinkan sama seperti mereka yang melakukan perkawinan satu darah. “Kalau mau kawin, Baba Manio membawa mereka ke sungai. Disiram dengan air sungai lalu dibacakan mantra. Sudah, cuma itu syaratnya,” ujar Mama Tanio dengan polosnya.

Keterisolasian mereka di hutan dan ketidaktahuan mereka terhadap etika sosial dan agama membuat suku Polahi tidak mengerti bahwa inses dilarang.

Mengherankan Tak Ada Cacat

Dari semua suku Polahi ini yang sudah melakukan perkawinan satu daran ini atau perkawinan saudara tersebut, dari begitu banyak yang telah kawin dengan saudara kandungnya itu, tapi belum ada dari mereka yang memiliki keturunan yang memiliki kecatatat. Ini sungguh aneh.

Bagi mereka, kawin dengan sesama saudara kandung adalah salah satu cara untuk mempertahankan keturunan Polahi. Yang mengherankan, yang melakukan perkawinan satu darah biasanya keturunannya akan catat pada umumnya. Namun, suku Polahi ini tidak di dapati hal semacam itu. Keturunan mereka semuanya sama seperti kita ini tidak ada yang cacat. ” ujar Ebbi Vebri Adrian”, seorang juru foto travel yang ikut menyambangi suku Polahi.

Memang belum ada penelitian yang bisa mengungkapkan akibat dari perkawinan satu darah yang terjadi selama ini di Suku Polahi. Namun, dibandingkan dengan suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia, mungkin hanya Polahi yang mempunyai kebiasaan primitif tersebut.